Geodesi dan Geomatika bagi Bangsa Indonesia (Paper Pancasila)

Keingintahuan manusia tentang bumi tempat mereka tinggal selalu berkembang dari masa ke masa. Keingintahuan tersebut tidak hanya mengenai tempat serta objek-objek yang ada di bumi. Selain itu, manusia selalu ingin berupaya memanfaatkan segala sesuatu yang ada di bumi dengan berbagai cara. Objek-objek tersebut antara lain kondisi bumi seperti tanah, air, dan juga objek-objek lainnya yang ada di dalamnya, seperti tumbuhan, binatang, bahan tambang, dan sebagainnya. Keseluruhan objek tersebut terletak di bumi. Berbagai upaya banyak dilakukan untuk memenuhi keingintahuan tersebut, antara lain dengan cara melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan menggambarkan jalur yang mereka lewati serta tempat-tempat yang mereka singgahi. Selain itu, mereka juga berupaya untuk dapat menjelaskan bentuk dan ukuran bumi itu sendiri, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menjelaskan lokasi dari objek-objek yang ada di bumi tersebut. Untuk itulah diperlukan ilmu geodesi dan geomatika untuk mempermudah kegiatan tersebut.
Geodesi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan representasi bumi, termasuk medan gravitasinya dalam ruang 3 dimensi dan waktu. Sedangkan geomatika adalah disiplin yang terkait dengan proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, analisis, penyajian, aplikasi, dan distribusi data dan informasi kebumian secara terintregasi. Informasi kebumian (geo information) merupakan data dan informasi yang terkait dengan lokasinya di bumi.
Dunia nyata terdiri atas obyek-obyek yang terkait dengan bumi. Untuk dapat mempelajari fenomena yang ada, termasuk jenis, volume, distribusi, dan perubahan obyek-obyek tersebut diperlukan referensi kebumian. Dalam hal ini, geodesi berperan untuk mendefinisikan referensi kebumian tersebut, baik referensi geometrik maupun referensi fisik. Referensi kebumian tersebut menjadi satu hal yang mutlak diperlukan sebagai ikatan informasi yang menyangkut obyek-obyek yang terkait dengan bumi. Dewasa ini, dalam prakteknya, geodesi dan geomatika saling terkait, dan sulit dipisahkan.
Selain itu, bentuk alamiah bumi adalah tidak teratur dan merupakan bentuk geometrik yang kompleks. Interaksi tektonik, gravitasi, dan gaya-gaya lainnya menyebabkan ketidakteraturan tersebut. Dengan ketidakteraturan tersebut, maka penentuan ukuran bumi menjadi tidak sederhana. Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk dapat menentukan bentuk dan ukuran bumi tersebut. Ukuran bumi menjadi terkemuka dan penting, terutama sejak eksplorasi yang dilakukan orang-orang Eropa, seperti Marcopolo, Colombus, Vasco da Gama dan Magellan, ke Asia dan Amerika. Bentuk dan ukuran bumi menjadi dasar dalam pemetaan modern. Pada kegiatan tersebut diperlukan parameter yang jelas mengenai bentuk dan ukuran bumi untuk dapat digunakan dalam mentransformasikan titik-titik pada bumi nyata ke bidang peta.
Di era globalisasi ini, pengabdian Teknik Geodesi dan Geomatika di masyarakat semakin banyak dilakukan. Salah satunya adalah kegiatan Teknik Geodesi dan Geomatika UGM pada tahun 2006. Kegiatan ini difokuskan pada pendampingan pemulihan paska Gempa 26 Mei 2006 masyarakat di Desa Sambirejo, Wukirharjo dan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut dilakukan oleh satu tim yang terdiri atas beberapa orang dosen dibantu beberapa mahasiswa dan dibiayai dari dana DPP.
Pengabdian masyarakat tahun-tahun sebelumnya antara lain:   pemetaan persebaran kandang sapi kelompok di Pandansimo, Kabupaten Bantul, dan penyuluhan tsunami di Srandakan, Kabupaten Bantul dan Galur, Kabupaten Kulon Progo, serta pemetaan sebaran enceng gondok di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, pemetaan situasi saluran irigasi sindet di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, pemetaan jalur pipa air bersih di Desa Tuksono, Sentolo, Kulon Progo, pelatihan Sistem Informasi Geografi (SIG) dan presentasi sistem informasi di SMU Negeri  Kodya Yogyakarta, penyuluhan pensertifikatan tanah di Desa Bawuran Bantul, dan pelatihan navigasi dengan GPS untuk pecinta alam SMU di Kulon Progo.
Selain itu, Teknik Geodesi dari ITB juga melakukan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bentuk Program Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan KK Geodesi yaitu dengan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat secara mono maupun multi-disiplin yang bermanfaat dan bermutu tinggi dalam rangka penerapan ilmu dan alih penguasaan teknologi, serta ikut berkontribusi dalam memberdayakan dan memajukan masyarakat. 
Bentuk realisasi program pengabdian kepada masyarakat tersebut berupa kerjasama proyek untuk bidang-bidang yang menjadi kompetensi KK Geodesi.  Bidang-bidang penguasaan bagi KK Geodesi diantaranya Pembangunan jaring titik kontrol, pembuatan GCP (Ground Control Point), Penentuan posisi teliti (Precise Positioning), Pemetaan Batas Wilayah daerah dan Negara, Penyatuan Datum, Pengolahan data GPS , Penentuan gaya berat, dan lain-lain.
Bangsa Indonesia sendiri juga membutuhkan keahlian dari para surveyor Geodesi dan Geomatika itu sendiri. Hal ini dapat digambarkan dengan adanya berbagai kerjasama dari Teknik Geodesi dan Geomatika dari berbagai Universitas dan Institute dengan beberapa Instansi Pemerintah maupun non Pemerintah serta antar Universitas. JurusanTeknik Geodesi UGM telah menjalin kerjasama dengan berbagai instansi. Kerjasama dengan instansi pemerintah antara lain Bakosurtanal, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Bappeda DIY, Direktorat PBB dan BPHTB Direktorat Jendral Pajak, Departemen Peker-jaan Umum, Dinas Pertanahan dan Pemetaan (DPP) DKI Jakarta, Pemda DIY dan Jawa Tengah, Balai Pengkajian Dinamika Pantai BPPT. Bentuk kerjasama ini antara lain dalam bidang pendidikan, pelatihan dan penelitian. Kerjasama dengan instansi swasta antara lain dengan PT. Pamapersada dalam bentuk pelatihan Pembuatan dan Penggunaan Peta Skala Besar dan Penggunaan Perangkat Lunak SIG.
Kerjasama juga dilakukan dalam bentuk bantuan tenaga pengajar kepada perguruan tinggi yang lain, antara lain STPN, STTL, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Universitas Janabadra, Akademi Militer Magelang, dan ITN Malang. Kerjasama dalam bentuk penelitian juga dilakukan dengan perguruan tinggi di luar negeri, antara lain dengan University of Canberra Australia mengenai Deformasi Candi Borobudur dengan GPS dan dengan Geo Forschungs Zentrum (GFZ) Postdam Jerman mengenai Estabilishing and Operating a CHAMP Ground Tracking Station, serta dengan Faculty of Geoinformation Science & Engineering University Teknologi Malaysia (UTM) dan ITC-Belanda.
Kerjasama juga dilakukan oleh Teknik Geodesi ITB dengan pihak PERTAMINA. Salah satu permasalahan yang dihadapi PERTAMINA pada pemetaan di era sebelum 1998 di areal WKP Pertamina adalah digunakannya titik-titik Astronomi sebagai acuan pemetaan.  Hal ini dilakukan karena terbatasnya titik-titik triangulasi yang terdapat di areal survey Pertamina,terutama di daerah Sumatera Selatan dan Jambi. Titik Astronomi sebagai acuan pemetaan bersifat lokal,  sehingga tidak selalu memiliki kecocokan geometris yang diperlukan pada pengukuran topografi.  Hal tersebut mengakibatkan lintasan-lintasan seismik dari tahun yang berbeda yang saling overlap tidak tepat diperpotongan antara kedua lintasannya (crossing line).  Hal ini dapat berakibat mis-interpretasi yang sangat merugikan dalam eksplorasi migas. Untuk mengatasi permasalahan ketidaksamaan sistem koordinat tersebut di atas yang disebabkan oleh acuan pemetaan yang bersifat lokal diperlukan upaya penyatuan sistem koordinat. Kegiatan penyatuan Datum kemudian dilakukan oleh PERTAMINA dengan melibatkan ITB melalui KK Geodesi sebagai partner.  Pekerjaan ini membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun.  Harapan setelah selesainya pekerjaan penyatuan datum ini, maka permasalahan yang dahulu muncul dalam hal sistem koordinat menjadi teratasi.
Selain dengan berbagai instansi, kerjasama juga dilakukan dengan Bangsa Indonesia secara langsung, yakni dalam penentuan batas wilayah kenegaraan. Setelah Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia, kemudian menjadi negara baru dengan nama Timor Leste, maka penentuan batas antar kedua negara ini menjadi isu krusial.  Batas negara harus jelas ditentukan antara kedua negara tersebut.  Salah satu bentuk kegiatan yang ada yaitu dengan melakukan pembangunan CBRF. Mengingat penting dan strategisnya peran dari datum bersama ini, maka pengkajian dan pembangunan CBRF perlu dilaksanakan secara baik dan sistematis, sehingga dapat berkontribusi maksimal untuk proses penataan dan pengelolaan batas negara.  BAKOSURTANAL sebagai koordinator yang membidangi masalah CBRF ini melakukan kerjasama dengan instansi dan institusi terkait diantaranya dengan ITB melalui KK Geodesi ITB, melakukan kegiatan pembangunan CBRF batas Indonesia dengan Timor Leste.
Di samping itu, penentuan batas wilayah Indonesia dan Papua juga dilakukan dengan peran dari Teknik Geodesi ITB. Untuk menuntaskan masalah perbatasan negara Indonesia dengan Negara tetangga, masih banyak hal yang perlu dilakukan.  Satu diantaranya yaitu dilakukannya pengecekan koordinat titik-titik batas dengan menggunakan teknologi baru yaitu GPS. Tujuan pengecekan dengan GPS karena sistem ini memiliki Datum Global yang lebih jelas, yang dapat mempermudah dalam hal pengaturan batas daerah atau negara.  BAKOSURTANAL dengan KK Geodesi ITB dan ditambah dengan instansi lainnya seperti DIPTOP TNI AD telah melakukan kerjasama dalam hal penentuan koordinat batas antara Indonesia dan Papua New Guinea. 
KK Geodesi ITB dipercaya sebagai institusi yang bertugas melakukan pengolahan data GPS, sehingga menghasilkan koordinat-koordinat titik batas.  Sementara itu pengamatan lapangan dipercayakan kepada DIPTOP TNI AD, dibantu oleh KK Geodesi ITB, dan dibawah koordinator orang BAKOSURTANAL.
Selain itu, peran serta keahlian para surveyor Geodesi dan Geomatika masih banyak tersebar di bidang-bidang lainnya. Namun, segala pengabdian tersebut tetap saja kembali kepada Bangsa Indonesia sendiri untuk terus berusaha mengembangkan dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.


Pengamalan sila-sila dalam Pancasila
Secara umum, apabila peran serta Teknik Geodesi dan Geomatika ini dihubungkan dengan Pancasila, maka peran serta yang tersebut di atas telah mencerminkan pengamalan nilai-nilai dari sila-sila yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri. Pengamalan pada sila pertama dapat ditunjukkan dengan proses-proses pembelajaran Geodesi dan Geomatika yang menyangkut segala hal yang ada di bumi ini. Dengan mempelajari segala hal yang ada di bumi ini, terutama sumber daya alamnya, maka surveyor juga mempelajari segala ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, karena Tuhan merupakan Pencipta dan Designer dari alam semesta.
Segala bentuk pengabdian dari Teknik Geodesi dan Geomatika, khususnya di bidang bencana alam untuk saling membantu dan berbagi telah mencerminkan sila kedua dari Pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Sedangkan sila ketiga, persatuan Indonesia, tercermin dari peran Geodesi dan Geomatika dalam keikutsertaannya dalam penentuan batas wilayah NKRI dengan negara tetangga. Teknik Geodesi dan Geomatika juga melakukan kerjasama kepada instansi pemerintah dan non pemerintah, yang tentunya di dalam kerjasama itu diperlukan adanya permusyawaratan dan perwakilan yang sesuai dengan sila keempat Pancasila. Di samping itu, sila kelima juga diamalkan oleh para surveyor. Salah satunya melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat. Dengan demikian, segala lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari disiplin ilmu Geodesi dan Geomatika.
Masih banyak pula nilai-nilai Pancasila yang diterapkan dalam setiap sisi kegiatan dan pengabdian dari surveyor Geodesi dan Geomatika. Dan segala bentuk Pengamalan itu dilakukan untuk perkembangan dan kemajuan Bangsa Indonesia.


Daftar Pustaka
Jurusan Teknik Geodesi UGM, 2004, ‘Pengantar Geodesi dan Geomatika’, Yogyakarta.
Kelompok Keilmuan Geodesi ITB, TT ‘Record kerjasama Proyek yang telah diselenggaran KK Geodesi’, http://geodesy.gd.itb.ac.id/kkgd/?page_id=114 (diunduh tanggal 26 Desember 2011 pukul 22.15).
Kelompok Keilmuan Geodesi ITB, TT ‘Pengabdian masyarakat melalui pelaksanaan PROYEK’, http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=111 diunduh tanggal 26 Desember 2011 pukul 22.20).
Universitas Gadjah Mada, TT ‘Teknik Geodesi & Geomatika’, http://fakultas-teknik.ugm.ac.id/jurusan/teknik-geodesi-geomatika.html (diunduh tanggal 26 Desember 2011 pukul 22.30).