Showing posts with label prosa. Show all posts
Showing posts with label prosa. Show all posts

Pencipta Hati

halo, kawan
jangan terlalu sering mengulur perasaannya
kamu pernah dengar kan jika hati juga bisa lelah
ketika kamu berharap dan ia datang, lalu kamu coba menggantungnya
suatu saat dia akan lelah dan berhenti berharap
karena ini bukan cerita dongeng atau film romantis
ini dunia nyata, kawan
lakukan apa yang harus kamu lakukan
katakan apa yang harus kamu katakan
jika kamu mau, bilang ya
jika tidak, pergilah
karena belum tentu juga hatinya untukmu
jangan remehkan, jangan sok
kamu bukanlah pemilik dunia
kamu bukanlah pencipta hati

Testimoni bukan Rasis

Sekelompok orang datang dan berkerumun di sebelah.
"Dari pada kamu, gelap, hahaha," kata si Putih disusul gelak tawa kawan-kawannya. Kemudian si Gelap duduk santai bersandar di punggung kursi yang tidak empuk.
"Dengar ya, kulit gelap kayak aku ini, jantan!" ucapnya meyakinkan. Lalu teman lainnya menanggapi "Kata siapa coba?"
"Lihat aja deh, kulit gelap tuh jantan, kalo kulit putih lembek orangnya."
"Berarti Cina lembek semua dong!" ucapnya.
Lalu suara tertawa terdengar memenuhi lobi KPFT, termasuk si Putih yang juga ikut terbahak-bahak karena mendengar perkataan kawannya itu.

"Sebenarnya jantan-nya orang tuh beda-beda. Jantannya orang Cina, Jawa, Amerika, Sunda, nggak bakalan sama."
"Tul sekali, seratus deh buat lo!"
"Nah, itu jawaban yang paling rasional tanpa rasis, brai."
"Emang nih, orang Arab, nggak ada matinya."
"Woy! gue bukan Arab, gue Jawa tulen, brooooo!!!"
Lalu mereka tertawa lagi.

Cerita Minggu di Taman Kota

     Hari Minggu ini masih seperti Hari Minggu sebelum-sebelumnya, belum bisa kembali ke kampung halaman, dan sibuk berkutat dengan urusan tanggungjawab. Saya duduk santai di taman kota menyaksikan kesibukan orang-orang yang berlalu lalang. Tumpukan kertas surat-surat dan daftar deadline tugas masih tertumpuk rapi di dalam tas yang sedari tadi belum saya jamah. Semoga hari ini menyenangkan.
        Beberapa saat kemudian seorang perempuan berambut pendek bergegas datang dan duduk di samping saya. Sejenak menatap dalam ke mata saya lalu terlihat bola matanya basah sedikit demi sedikit.
       "Aku nggak suka kayak gini, aku benci dia Mbak,"  ucapnya seketika. Saya tidak mengerti siapa dia dan kenapa tiba-tiba bicara seperti itu. "Apa semua cowok kayak gitu sih Mbak? Suka ngasih harapan semu."
        Saya mencari tisu di dalam tas, lalu memberikannya pada perempuan yang sekarang mulai menangis di samping saya. Saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakannya, mungkin tentang pacarnya. 
       "Dia itu baik banget sama aku Mbak, beda dari teman-teman cowok yang lain. Tapi dia juga udah punya cewek. Mungkin emang akunya mbak yang salah. Mungkin emang aku yang terlalu sensitif sehingga mudah menaruh hati sama dia. Aku benci karena aku dibuat bingung sama perasaanku." Saya masih mendengarkannya. "Iya, aku yang salah karena merasa dia menaruh perhatian. Ini pasti karena aku selalu menutup hati untuk lelaki. Ya, pasti karena selama ini aku menjaga jarak dengan lelaki, mungkin karena aku takut disakiti." 
       
      Sesekali tangannya mengusap air mata yang mengalir ke pipi. Sesekali tangannya mengepal menahan emosi yang ingin meluap. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang semakin menjadi.
        "Tapi aku nggak suka diperlakukan seperti itu Mbak. Aku cuma ingin ada satu orang saja yang benar-benar sayang seutuhnya dan selamanya. Apa itu berlebihan?" Angin berhembus kering menyibak rambutnya yang hitam. Ia membenahi ikat rambut yang mulai berantakan. Saya masih mendengarkannya berbicara.
         "Aku hanya takut tersakiti, sehingga aku lebih memilih menutup hati. Mungkin aku trauma," ia menatap saya dalam dalam. "Kakakku hamil di luar nikah, Mbak, dan sejak saat itu aku sangat berhati-hati dengan cowok. Dan sejak saat itu, aku belum bisa percaya sama orang lain. Aku cuma percaya sama Tuhan."
       Saya menghela nafas, mengerti kesedihan dan kekawatiran yang ia rasakan. Dia menunduk dengan air mata yang masih saja jatuh. Ia meremas ujung bajunya, terisak dan membisu. 
       
       Saya memegang pundaknya, "Hey, ini bukan akhir segalanya, ok? Terkadang aku juga benci mendengar orang memujiku cantik, karena aku tidak tahu dia benar-benar melihat aku cantik atau hanya sekedar basa basi. Kamu boleh menjaga hati kamu, karena itu tidak salah. Suatu saat, hati kamu akan terbuka dengan sendirinya, ketika kamu sudah siap. Kamu juga tidak mau terus menutup diri kan? Kamu kan juga butuh teman hidup, dan selama perjalanan bertemu dengan teman hidup itu tidaklah mulus. Seperti yang kamu alami dengan cowok itu adalah salah satu ujian untuk tahu, apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan jodohmu."
       Dia mendengarkan saya berbicara, lalu memandang jauh di ujung taman. "Jadi ini ujian ya Mbak?" Saya ikut memandang jauh, "Siapa yang tahu."

Ketika Aku Diintip Bulan

Baru kemarin aku lihat kawanku berlarut-larut malam demi menunggu pesan asmara. Baru kemarin aku bersorak-sorak di bawah bendera kebanggaan. Sekarang sang Candra mengintip haru di tengah keheningan malam. Dan aku tersenyum sipu menatapnya. Apakah kau melakukan hal yang sama di sana? Karena ada orang yang bilang bahwa sesungguhnya dunia itu hanya sebatas angan, dan impian hanya sejauh dua jari yang disatukan. Akankah kau tahu batasan-batasan menarik udara dalam relung dadamu? Karena kini penaku tak kunjung berhenti menulis. Menuliskan kata demi kata dari kekecewaan senja pada warna kuning. Dari sahabat yang sejenak merasa terlupakan. 
Seperti bintang-bintang yang kecil dan jauh mengamati tapi tak pernah terhitung jemari. 

I Like The Rain

Close your eyes and listen the clear raindrops take my place
And with this song, they whisper that I love you in your ear
Like the lovers underneath the small umbrellas on the streets
I want to hold your hand and walk to anywhere
It’s okay if my whole body is drenched

Like the falling rain, my heart flutters
I can’t believe you are looking at me and waving your hand
Shall I slowly approach you and tell you today?
The falling raindrops become my friend and pats my shoulder
Shall I confess to you today, that I love you?

Love is like rain, like the warm spring, 
it makes me dream

-love rain-


Buruk Rupa

diminta minta, suka sekali kamu diminta minta. tersenyum senyum, suka amat kamu tersenyum senyum. iya iya oke baiklah boleh. pukul saja kepalamu pakai tombak!
- si buruk rupa

Orang Sudah Lupa Rasanya Mati

orang sudah mulai lupa kepada siapa mereka meminta
orang sudah mulai lupa kepada siapa mereka berharap
orang sudah mulai lupa kepada siapa mereka meminjam
orang sudah mulai lupa berbagi
orang sudah mulai lupa berterima kasih
orang sudah mulai lupa membalas budi
orang sudah pakai topeng semua
cuma Tuhan yang tidak bertopeng
maka jangan lagi percaya orang, percaya pada Tuhan

dikata semua orang bulshit adanya,
saat butuh datang, saat dibutuhkan menghindar. 
ada harapan kamu bagikan, 
ada peluang kamu ditinggalkan.
orang hidup banyak rasa, katanya

yah, namanya juga hidup
garis merah itu sudah diatur, 
yang namannya rezeki dan nasib sudah ditentukan
kalo kamu digariskan mati sekarang, 
tinggal mati saja, nggak mungkin bisa hidup
kalo mau jahat, 
jahat sekalian jangan setengah-setengah

sayangnya yang namanya topeng memang sudah mendarah daging
apa mau darah dipisah dari dagingnya
matilah sudah

makanya,
kalo mau hidup tenteram, imbangi perkembangan yang ada
semua bertopeng, kenapa kamu tidak?
yang ada malah mati duluan
atau sudah lupa rasanya mati?

jamurjamur Melodi

lukisan dari jamurjamur di dinding kamar
dan
melodimelodi yang sedang dicoba
untuk dinikmati
hati