Ada sebuah kisah yang terdengar dari burung gagak hitam yang bertengger di sebuah kawat berkarat. Dengan terbata-bata karena telah menempuh perjalanan yang jauh, si gagak berusaha memperjelas kicauannya. Si anak mendekatkan telinganya ke paruh kuning kotor yang sedari tadi terbuka.
"aku punya sebuah alat yang bisa membuat kita bisa melihat seluruh dunia"
"benarkah? Alat apa itu?"
"sebuah benda sepanjang telunjuk tanganmu berwarna hitam merah jambu dan bertuliskan prolink"
"bagaimana bisa alat itu memperlihatkan kita dunia yang sangat luas ini?"
"maka kau harus mengisinya dengan angka 25.000 dan selanjutnya datangkanlah alat itu ke kakek google"
"kakek google? Aku pernah mendengarnya"
"ya, namun yang disayangkan adalah jikalau situasimu sedang tidak bersahabat denganmu"
"apa maksudmu wahai gagak hitam nan lusuh?"
"situasi dimana kamu sangat perlu untuk melihat dunia mengenai apa itu Hak Asasi Manusia dan ternyata alatmu itu tidak berfungsi baik"
"lalu apa yang terjadi?"
"kau berusaha keras untuk mengulanginya karena gurumu telah berkata bahwa kau harus berusaha keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Namun alat itu tetap tidak mau mengantarkanmu ke dunia yang kau maksud. Hingga kau bermuka suram gundah gulana"
"wahai gagak hitam nan gundah gulana, mengapa kau sangat ingin melihat dunia yang luas itu?"
"karena jika aku tidak melakukannya maka akan ada seorang besar yang tiap waktu hampir selalu membuat hatiku berdegup kencang yang datang padaku dengan berbagai pernyataan atau pertanyaan yang membingungkanku"
"kau tau?"
"apa wahai anak kecil yang tak bisa mendengar?"
"sesungguhnya itu hanya kegundahan hatimu yang merasa bahwa duniamu begitu kecil. Pernahkah kau melihat keajaiban kecil yang dihasilkan dari si daun yang berguguran?"
Sepersekiandetik kemudian si gagak hitam menutup paruhnya bersamaan dengan terkibasnya sayap-sayap hitam pekat. Ia pergi menjauh dari si tuli yang sedari tadi tertidur di bawah pohon jambu.