sekarang kita bukan remaja lagi kawan,
dewasa,
sepertinya kata itu mulai terbiasa didengar di telinga ini,
karena kita sudah melewati angka 17 beranjak menuju kepala dua.
kita tidak lagi mencoba membuat dua kepangan tinggi dari rambut kepala kita.
tidak lagi meminta ayah untuk menalikan sepatu mungil kita.
tidak lagi meraung-raung menarik-narik baju ibu untuk membelikan sebuah boneka atau alat memasak minimalis.
kita sudah mulai memoles wajah dan bibir manis kita.
mulai mencoba-coba apakah sepatu hak tinggi cocok untuk dipakai kaki ini.
mulai menabung dan membelanjakan uang untuk baju bagus.
dahulu handphone dipakai untuk telpon ayah ibu, minta dijemput atau tanya tugas ke teman.
sekarang handphone sudah beralih fungsi untuk menyimpan kenangan bersama teman, sahabat, kekasih,
untuk mengatakan pada dunia bahwa hari ini kita bahagia.
terutama hati,
kita merasa dunia ini kecil
hanya untuk bermain, tertawa, makan, tidur
dunia itu ringan
sekarang kita tahu cinta
meski belum mengenal arti sebenarnya
dunia terasa begitu luas, masalah terasa datang silih berganti
dunia itu berat
menangis, tertawa, senyum, sakit hati, kecewa, melompat-lompat, berguling-guling, melamun, berlari, terduduk, menjadi hal biasa untuk menyaba dunia yang luas ini
tapi, bukankah dewasa itu menyenangkan?
melihat dunia yang semakin lama semakin membebani dengan sikap kita yang semakin lama semakin terawasi
kedewasaan membantu kita membuat dunia kembali terasa ringan,
seperti dahulu, saat kita menjadi burung yang bebas terbang dan hinggap dimanapun.