Wahai Pujaan

kau tahu,
hujan tak lagi turun di sekitarku
pohon-pohon tak lagi secoklat tua seperti dahulu kala
angin tak lagi berhembus dingin
tak lagi seperti dulu
dulu dahulu ketika kau begitu manis tersenyum padaku
mengumbar rambut dahimu yang tersapu angin
bergerak cepat seolah kau adalah si sibuk
kau masih tampan,
setampan dahulu bahkan lebih
rambutmu yang hitam berantakan kini terlihat tertumpuk rapi
kumis yang dulu tak nampak kini tipis tipis tertata di atas senyum indahmu
hitam, aku masih suka kau pakai baju hitam
di bawah pohon yang dulu berwarna apik saat terguyur hujan
kau di sana bermain sebongkah kayu bangunan
duduk berdiri tertawa berjalan

seakan waktu berhenti untuk membantuku mengucap kata 'hai'
tapi angin berhembus lebih cepat, menyadarkan sang waktu untuk tidak berhenti terlalu lama
tak sempat
kacau, hal yang paling aku takutkan

kau tahu,
kini angin kering datang menghampiri
terik sang surya mencoba membakar hati yang merindu
tak usah kau tanya atau sapa
tersenyum saja, wahai pujaan
karna senyummu bisa mengundang embun untuk datang bermain denganku
membasahi ujung-ujung dedaunan sedikit demi sedikit
setidaknya kekeringan tidak kan hadir lagi dalam senyapnya kebisingan