dari Dewa (#1)

:: Dewa
Aku tidak berharap dapat surat. Kalau berharap mungkinakan seperti tahun lalu, pulang dengan tangan hampa, hahaha. Tapi fani datang dengan sebuah amplop di tangan kanannya.
"Buat kamu, Mad. Akhirnya dapat surat juga kan?"
Aku tersenyum menerima surat ini. Aku duduk dan membacanya. Rumi, anak itu bernama Rumi.


Tadi pagi hujan turun di Jogja sampai siang dan aku menikmatinya
Berlindung payung di bawah guyuran hujan melompati kubangan air jalanan
Mengambil satu napas dalam untuk merasakan hangatnya aroma hujan pagi dan segarnya bau tanah yang basah
Mengucap permohonan di depan pintu keluar sebelum langkah pertama hari ini
Mengamati pohon-pohon yang basah dan daun-daun yang bergerak halus karena angin
Angin yang dingin untuk hari sepagi ini
Dingin yang melebihi dinginnya air es
Dingin yang diam-diam menyelinap di hati

Hujan membawa berkah dari Tuhan
Namun, hujan juga menghantarkan rasa rindu dari berbagai perindu
Menghapuskan segala keresahan akan seseorang yang jauh
Jauh nun jauh tak terjangkau
Sedangkan aku (masih) selalu menyukai hujan

Lantunan nada mengalir melalui headset ke telinga menuju hati
Lagi-lagi ini tentang hati
Karena hujan selalu bisa membuat hatiku bernyanyi
Aku bernyanyi di bawah hujan
Vanilla twilight dan kamu, aku ingat itu


Rumi