Ketika Aku Diintip Bulan

Baru kemarin aku lihat kawanku berlarut-larut malam demi menunggu pesan asmara. Baru kemarin aku bersorak-sorak di bawah bendera kebanggaan. Sekarang sang Candra mengintip haru di tengah keheningan malam. Dan aku tersenyum sipu menatapnya. Apakah kau melakukan hal yang sama di sana? Karena ada orang yang bilang bahwa sesungguhnya dunia itu hanya sebatas angan, dan impian hanya sejauh dua jari yang disatukan. Akankah kau tahu batasan-batasan menarik udara dalam relung dadamu? Karena kini penaku tak kunjung berhenti menulis. Menuliskan kata demi kata dari kekecewaan senja pada warna kuning. Dari sahabat yang sejenak merasa terlupakan. 
Seperti bintang-bintang yang kecil dan jauh mengamati tapi tak pernah terhitung jemari.