Di suatu senja yang gerah, saya berjalan menuju stasiun yang notabene penuh sesak oleh orang-orang yang ingin kembali ke kampung halamannya. Kenapa? Tentunya karena dua hari lagi akan ada hari besar umat Muslim sedunia, yakni Idul Qurban.
Saya bergegas menuju loket tiket lokal sambil mengeluarkan selembar uang biru seharga 50.000an.
"Solo satu mbak, jam berapa ya?"
"Jam 6 mbak."
Lalu saya menyodorkan uang yang sedari tadi basah oleh keringat.
"Nggak ada uang kecil? Belum ada kembaliannya, mbak. Ini mbaknya juga baru nunggu kembalian," ujar penjaga loket sambil menunjuk seorang perempuan yang berdiri di sisi kanan saya.
Sambil sedikit menghela nafas, saya bergeser ke tepi untuk mempersilakan pengantri berikutnya. Tentunya juga berharap semoga orang-orang membeli dengan uang pas agar saya segera mendapatkan tiket.
Gerbong nomor 5 kursi nomor 1A pukul 17.58 tercetak di tiket yang saya pegang. Saya berjalan gontai mencari celah untuk duduk karena stasiun ini penuh sesak oleh orang-orang yang entah pukul berapa keberangkatannya. Sedangkan saya, masih harus menunggu 2 jam ke depan untuk bisa keluar dari stasiun ini.
Sebuah kereta mulai meninggalkan stasiun ini. Saya mendapatkan sebuah tempat di samping laki-laki yang sepertinya seumuran dengan saya. Tiba-tiba seorang lelaki duduk di antara kami, lalu mulai berceloteh tentang berbagai hal. Tak disangka ia mulai menebak ini dan itu mengenai saya, mulai dari umur, tanggal lahir, sosial media, hingga pacar. Saya masih ingat sebuah testimoni dari pria yang mengaku dari Cirebon ini yang membuat saya tertawa dalam hati,
"Seorang cewek yang diajak bicara dengan seorang yang dewasa seperti saya, jika ia terkesan menutup-nutupi berarti ada dua hal yang bisa kita simpulkan. Pertama, ia merasa takut, karena orang yang mengajak bicara adalah orang yang baru dikenalnya. Dan kedua, dia merasa takut pula, karena saya seorang yang dewasa sedangkan ia sudah punya pacar."
Jika pada saat itu saya memiliki muka setebal baja, sudah pasti saya akan tertawa terpingkal-pingkal di depan wajahnya. Memang sedari awal ia mengajak saya berbicara, saya terkesan menutup diri. Kenapa? Bisa dibilang saya bukanlah tipe orang yang suka dengan seseorang yang sok tahu, dan malangnya lelaki yang mengaku umurnya 28 tahun dan masih lajang ini adalah tipe orang yang seperti itu. Kemudian, seorang wanita datang dan duduk di samping saya. Saya mulai mendapatkan udara segar, setidaknya saya bisa mengajak si Mbak ini ngobrol untuk menghindari tebakan-tebakan mengejutkan lain dari lelaki tadi. Pukul 17.15, sebuah kereta datang. Mbak yang berasal dari Jakarta mulai mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi memasuki kereta. Si lelaki penebak tadi mulai beranjak juga.
"Mari Mbak, hati-hati ya, kalau diculik saya nggak mau nanggung lho! Sampai jumpa lagi." Saya hanya tersenyum seramah mungkin, sambil melihat ia berjalan menjauh. Lucu juga pikir saya, jika tidak ada lelaki sok tahu tadi, mungkin saya sudah mati kebosanan di stasiun ini.