Aku (tidak) Baik-Baik Saja

Ada sebuah cerita nih,..

***
Berkata bahwa kau baik baik saja itu menyakitkan.
Jangan pernah bilang kamu baik-baik saja kalau ternyata sebenarnya kamu tidak baik-baik saja.

Suatu keadaan dimana situasinya seperti ini..

Aku punya sahabat baru di sekolahmu.
Aku bingung bagaimana cara pulang karena aku tidak punya teman untuk pulang bareng.
Sahabat? Ya, ada, yang dulu jadi teman yang mau hujan-hujan tanpa alas kaki, tertawa, malu bersama.
Tapi kondisinya sekarang berubah.
Ada orang yang lebih asik dariku. Sahabatku pergi dengan orang itu.
Bagaimana perasaanmu?
Jangan bilang kamu baik-baik saja. Tapi oke, kalau kamu memaksa.
Aku baik-baik saja.

Sekarang aku mencoba membaur dengan mereka.
Tapi sulit. Itu bukan tipeku. Suka main, pergi pergi. Cerewet. Banyak tingkah.
Aku tidak suka itu. Aku kesulitan menjadi seperti itu. Sahabatku itu, memang berbeda.
Aku adalah orang yang banyak gengsiya. Tapi tidak pernah bisa mandiri. Berharap mendapat teman untuk pulang. Sahabatku? Ia pergi dengan teman barunya.
Aku? Aku diberikan kepada orang lain yang ternyata adalah orang yang kusuka.
Aku siap di atas motornya.
Lalu orang lain bilang kalau orang yang aku suka itu ternyata menyukai sahabatku yang kini dengan teman barunya. 
Bagaimana perasaanmu?
Aku masih baik-baik saja.

Aku masih bisa tersenyum. Tertawa kering. Bahkan aku masih sempat meledek sahabatku itu dengan orang yang aku sukai yang sekarang ada di depanku.  Ia tertawa senang, begitu juga sahabatku.
Tapi, bukankah sahabatmu tau kalau kamu suka dia?
Selama perjalanan pulang dengan orang yang aku sukai, aku hanya diam.
Aku mau bicara. Tapi aku membatalkannya.
Aku sibuk menata hati.
Benar-benar kacau. Merasa tidak punya teman. Merasa dikhianati. Merasa kesepian. Merasa buruk.

Sekarang aku akan bilang, kalau aku memang tidak baik-baik saja.

"Hati-hati ya, di jalan."
"Haha, kamu yang hati-hati."
Ia berlalu. Aku berusaha cepat cepat masuk ke kamar, sebelum hujan air mata menerpa.
Aku kunci kamar. Aku ambil tissu. Aku duduk di depan cermin. Aku menangis.
Meratapi segala keadaan yang menimpamu di kamis ini.
Bukan, bukan karena ia yang telah direbut, karena aku tidak benar-benar menyukainya. Tapi karena sahabatku yang kini tak peduli padaku. Ia seperti hanya peduli jika butuh. Atau bisa dikatakan peduli karena kasihan padaku.
Mengingat kembali perkataan sahabat lamaku. Sahabat nyataku.
Sekarang aku ingat sahabat nyataku. Aku cari-cari nomornya. Aku coba panggilan.
Baa. Panggilan ditolak.
Bee. "Halo assalamualaikum?" suara yang selalu membuatku berusaha untuk kuat. "Kamu lagi galau ya?" "Haha, ennnggak kok!" bohong. Aku suka bohong. Air mata menetes di ujung mata. Aku habis 3 tissu.
Ada sms masuk. Baa. "Kenapa?" aku mengusap air mata.
"Nggak. Cuma tanya kabar." lagi-lagi bohong.
"Ada apa to? Mencurigakan!" dia tahu. Aku menangis lagi. Dan aku bohong lagi.

Sekarang aku bisa membandingkan siapa yang benar-benar sahabat. Sahabat lamaku yang bisa tahu aku tidak baik-baik saja tanpa aku mengatakannya, atau sahabat baruku yang terkadang bertingkah seperti keberatan dengan adanya aku di dekatnya.

Aku melihat wajahku di cermin, "Aku enggak baik-baik saja."
Aku membenamkan wajahku di bantal. Aku berteriak.
Aku melihat lagi wajahku di cermin, "Aku baik-baik saja."

Ya, aku akan baik-baik saja. Selalu.

 ***


poin apa yg bisa kamu ambil, kawan? 
:D