Jadi, orang bijak
pernah bilang kalau 'kegagalan adalah awal dari kesuksesan', mungkin aku harus
percaya.
Hahaha..
Ini hari ke tiga
dari empat hari libur akhir minggu yang lumayan panjang dan menyenangkan.
Aku mengawali
liburan ini dengan membolos mata kuliah KWN yg notabene dari situ aku kenal
kata 'mbal mbul', taulah cerita yang kemarin itu.
Aku bertolak dari
Statiun Tugu menuju Solo City. Niatnya sih mau naik Madiun Jaya AC yang
disananya aku nggak perlu berdesakan dengan orang-orang yang mau berlibur. Tapi
Tuhan berkehendak lain, tiket Madiun jaya habis tepat di depan mataku, sial!
Oke oke, "Mbak,
Madiun Jaya habis ya? Prameks deh, satu," aku sodorin uang 10ribu ke
pegawai loket yang judes.
Di kursi tunggu,
tiba2 datang 3 orang ibu2 yang duduk di sampingku.
Ibu-ibu1 : Mbak, mau ke Solo?
Aku : iya bu.
Ibu-ibu2 : Wah, halo-halo ne kui ngomong opo? Ra ceto! [ngomentarin bagian informasi stasiun]
Ibu-ibu1 : haha, wong awake dewe wes tuwo, sudo rungu kupinge.
Ibu-ibu3 : yo, manut mbak'e wae lah, kan yo mau ke solo kan mbak? [menoleh ke aku]
Aku : (what?!) ahiihihi, iyaaa hehehe (sial!)
Ibu-ibu1 : ho.oh, ngko nututi mbake wae
Lalu ketiga ibu-ibu
itu tertawa tawa. Akunya ngambil batu buat pukul-pukul kepalaku.
Lalu terdengar dari
speaker bahwa kereta pramex akan datang di jalur 5, maka penumpang diharap
bersiap-siap.
Mendengar itu,
ibu-ibu tadi panik, lalu ngliat aku semua. Aku balik ngeliat, dan kontan ikut
panik, apalagi semua penumpang mulai bergerak berdiri di tepi rel. Aku, yang
termasuk orang bergengsi tinggi, mulai sok-sokan ikut berdiri dengan pedenya.
Sambil mengambil tas, dan memperbaiki gendongan tasku, aku perhatikan lagi
informasi yang keluar dari speaker stasiun ini. Jalur 5, aku nangkap pramex ada
di jalur 5. tapi tunggu, kenapa semua orang berdiri di jalur 3? Aku lihat
ibu-ibu itu juga bergegas di belakangku, aku tersenyum, seakan-akan aku orang
yang menyakinkan. Aku berjalan menuju jalur tiga, seperti orang-orang lain.
Ketiga ibu-ibu itu berjajar di sampingku.
Aku : hehehe
Ibu-ibu1 : walah-walah, akehe kik sing meh numpak.
Ibu-ibu3 : lha yo to, po iso ambekan nko, hahaha
Ibu-ibu2 : [diam, sepertinya tipe ibu-ibu pendiam]
Para penumpang diharap berhati-hati, kereta
api pramex prambanan ekspres melaju di jalur 5.
Toengngngggg!!!!
Panik, sumpah, aku
panik, tahu kalau yang di jalur 5 itu beneran pramex, berarti aku salah jalur.
Ibu-ibu tadi juga ikutan panik. Untuk saat ini nggak ada acting untuk jadi
orang sok tahu. Aku lari menuju jalur 5. Ibu-ibu itu mengikuti aku.
Ibu-ibu1 : lha iku pramekx'e. Sing endi to jane?
Aku : [bingung]
Ibu-ibu3 : lhah piye iki?
Aku : [tambah panik]
Ibu-ibu3 : takok pak satpam'e kui ae.
Aku : [berhenti di depan pak satpam]
Ibu-ibu1 : pak pramexnya yang mana to?
Satpam : jalur lima bu, yang itu udah datang.
Aku : [panik akut]
Ibu-ibu3 : itu ke solo pak?
Satpam : yang jalur 3 berarti bu.
Aku : [ha?! bingung]
Ibu-ibu3 : jadi yang mana pak?
Satpam : yang ke solo jalur 3 bu, tunggu sebentar lagi datang, itu yang mau ke kutoarjo.
Tolooooooooooooooooooooooooolllll!!!!!!
Jadi begini
teman-teman. Sebenarnya, aku udah benar berada di jalur 3, pramex tujuan Solo.
Yang di jalur 5 itu pramex tujuan Kutoarjo. Jadi intinya, ada dua pramex di jam
yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda.
Aku : jadi pramexnya da 2 ya pak? [sumpah, ini pertanyaan paling bego! Akunya masih sok2an gitu]
Lalu aku menuju
jalur tiga untuk tidur di atas rel biar ditabrak sama kereta.
Aku maluuuuuu,
sumpah, demi tahi kambing yang bentuknya mirip camilan deket kosannya jane, aku
malu akut. Orang-orang di sini ngliatin aku yang dibuntutin 3 orang ibu-ibu
seperti orang bingung yang baru pertama kali naik kereta, padahal, aku tuh udah
pengalaman naik kereta sejak SMA, buuuuuuuk!
Aku : hehehe, maaf ya bu, saya kira yang jalur 5 [meringis, kali ini ngerasa bersalah]
Ibu-ibu3 : nggak popo mbak, wong yo halo-halone sing ra ceto, kupinge do budeg kabeh, hahahaha
Aku : hahaha (what??!!! Budeg kabeh???? Berarti aku juga dong!!!!)
Aku berpaling ke
tiang stasiun, pukul-pukulin kepala ke tiang stasiun.
Baru sekali aku
dibilang budeg sama ibu-ibu.
Nangis darah.
Tuuuut,
tuuuuuuut..
Pramex warna kuning
abu-abu melaju mendekat.
Bisa dilihat dari
jendela yang ventilasinya hampir semuanya rusak, penumpang di dalam pada
berdiri berdesakan. Oh Tuhanku, mohon kebakan hatimu agar aku tidak dilihat
sebagai anak kecil di dalam sana.
Pintu kereta
terbuka, kami berebut berdesakan masuk ke dalam kereta. Dan sangat beruntung
nya si ketiga ibu-ibu itu dapat tempat duduk di bawah jendela yang ventilasinya
terbuka. Dan aku, sialnya, hanya bisa berdiri di dekat pintu dengan dikelilingi
ketiak-ketiak dari para lelaki.
Kereta berjalan,
tidak ada perubahan, udara tetap sama tidak bergerak, dan berbau seperti
*puuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuup* << maaf
salah ejaan.
Stasiun lempuyangan,
kereta berhenti.
Biasanya ini
berkisar 10 menit dari stasiun tugu, tapi kali ini rasanya seperti setengah
hari. Penumpang masuk lagi, berdesakan lagi. Dorong sana-dorong sini. Aku
berusaha bertahan di tiang dekat pintu ini, biar bisa pegangan, karena tau
sendiri lah, kalo aku di tengah berarti aku mesti pegangan di gantungan atas.
Dan aku kan pendek, MANA MUNGKIN BISA MEGANGNYA???!!!!!!
Ketiak-ketiak
bertambah di sekitarku. Aku lihat, si ibu-ibu itu, bisa tertawa bercanda di
sana, dengan angin yang menerpa rambut-rambutnya.
Gilaaaaak!!!!
Pengeeeeen!!!!
Nangis. Nyabutin
buku-bulu ketek yang bergantungan di sekitar.
Sekitar 20 menit
berlalu, dan aku baru sadar di depanku duduk seorang cowok dengan tas gunung
yang dipeluknya, untuk memberi ruang bagi orang lain yang berdiri di
sekitarnya. Setengah mukanya ditutup slayer, sehingga terlihat mata dan rambut
jambulnya. Ganteeeeeeeeeng!!!! Lumayanlah, nggak bisa duduk tapi bisa ngliatin
cowok ganteng. Tapi gara-gara dia tepat di depanku, aku jadi nggak bisa
ngapa-ngapain, jaga diri lah yaaa.. Hahaha...
Ini yang namanya
rezeki, alhamdulillah yak!
Hatinya nih, rasanya
lagi berbunga-bunga, sampai muncul buah apel di atas kepalaku. Nglirik dikit,
trus berpaling buat senyum riang gembira. Lirik lagi, trus berpaling senyum
lagi. Hahaha, nggak ada angin di sini, tapi hatiku terasa sejuk sekali, waaaaaaaaaaa.....
Lalu tiba-tiba petir
menyambar, suara ibu-ibu memanggilku.
Ibu-ibu1 : mbak, mbak, sini lho [dia nunjuk aku]
Aku : nggak bu, di sini aja nggak papa [sok tegar, padahal nangis darah pengen duduk]
Ibu-ibu3 : rapopo mbak, kene tak pangku. Timbang ngadeg nang kono [sambil nepuk-nepuk pahanya]
Aku : (what???!! Di pangku??? Emang gue anak kecil???)
Ibu-ibu1 : hooh, kene [tepuk pahanya] timbang nang kono mbak, wes cilik kejepit-jepit.
Tau Po di kungfu
panda? Dia jatuh di kepalaku.
Ternyata aku emang
masih kecil.
Dan mas-masnya yang
keren tadi, yang bawa tas gunung, yang rambutnya berjambul, ngetawain
gueeeeee!!!!!
Sumpah, detik itu
juga, dia jadi jelek, kayak badut yang pakai topeng dengan hidung merah dan
rambut keriting di lampu merah UNS.
Aku : errrrr [ndongkol akut]
Mas di sampingku : [agak mundur, ngasih jalan] iya mbak sana aja. [seakan-akan ngusir aku]
Aku : (sial! Aku pengen duduk, tapi bukan gini maksudnya!) [nyakar mas-masnya]
Akhirnya dengan
berat hati, aku berjalan menuju pangkuan ibu-ibu tersayang. Dan kemudian
seakan-akan beban telah lenyap, seisi gerbong tertawa melihatku.
Kamu tau gimana
perasaanku?
Kamu tau gimana
mukaku?
Kamu tau gimata
otakku berpikir.
Ambil golok,
bacok-bacok itu muka-muka yang ngetawain aku.
Ya Tuhan, berikan
muka gedhek untuk hambaMu kali ini.
Gue berlipat-lipat
malu akuuuuuuut!!!
Sampai di rumah nih,
langsung aja ya. Aku cerita ke kakak dan ibu. Dan mereka bilang gini,
"Hahaha, kan
emang, dari dulu kalo kamu pergi-pergi itu mesti dipangku sama orang-orang, di
bus, di jalan, ato dimana aja lah, pasti kamu dapat pangkuan dari orang-orang,
kayaknya sampai sekarang deh."
Betebetebetebetebetebetebetebete......
Dan apakah hubungan
cerita tersebut dengan kata orang bijak, 'kegagalan adalah awal dari
keberhasilan'?
Tidak ada!
Demikian sekilas
info, harap bacok orang-orang di sekitar anda.