Testimoni bukan Rasis

Sekelompok orang datang dan berkerumun di sebelah.
"Dari pada kamu, gelap, hahaha," kata si Putih disusul gelak tawa kawan-kawannya. Kemudian si Gelap duduk santai bersandar di punggung kursi yang tidak empuk.
"Dengar ya, kulit gelap kayak aku ini, jantan!" ucapnya meyakinkan. Lalu teman lainnya menanggapi "Kata siapa coba?"
"Lihat aja deh, kulit gelap tuh jantan, kalo kulit putih lembek orangnya."
"Berarti Cina lembek semua dong!" ucapnya.
Lalu suara tertawa terdengar memenuhi lobi KPFT, termasuk si Putih yang juga ikut terbahak-bahak karena mendengar perkataan kawannya itu.

"Sebenarnya jantan-nya orang tuh beda-beda. Jantannya orang Cina, Jawa, Amerika, Sunda, nggak bakalan sama."
"Tul sekali, seratus deh buat lo!"
"Nah, itu jawaban yang paling rasional tanpa rasis, brai."
"Emang nih, orang Arab, nggak ada matinya."
"Woy! gue bukan Arab, gue Jawa tulen, brooooo!!!"
Lalu mereka tertawa lagi.

Cerita Minggu di Taman Kota

     Hari Minggu ini masih seperti Hari Minggu sebelum-sebelumnya, belum bisa kembali ke kampung halaman, dan sibuk berkutat dengan urusan tanggungjawab. Saya duduk santai di taman kota menyaksikan kesibukan orang-orang yang berlalu lalang. Tumpukan kertas surat-surat dan daftar deadline tugas masih tertumpuk rapi di dalam tas yang sedari tadi belum saya jamah. Semoga hari ini menyenangkan.
        Beberapa saat kemudian seorang perempuan berambut pendek bergegas datang dan duduk di samping saya. Sejenak menatap dalam ke mata saya lalu terlihat bola matanya basah sedikit demi sedikit.
       "Aku nggak suka kayak gini, aku benci dia Mbak,"  ucapnya seketika. Saya tidak mengerti siapa dia dan kenapa tiba-tiba bicara seperti itu. "Apa semua cowok kayak gitu sih Mbak? Suka ngasih harapan semu."
        Saya mencari tisu di dalam tas, lalu memberikannya pada perempuan yang sekarang mulai menangis di samping saya. Saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakannya, mungkin tentang pacarnya. 
       "Dia itu baik banget sama aku Mbak, beda dari teman-teman cowok yang lain. Tapi dia juga udah punya cewek. Mungkin emang akunya mbak yang salah. Mungkin emang aku yang terlalu sensitif sehingga mudah menaruh hati sama dia. Aku benci karena aku dibuat bingung sama perasaanku." Saya masih mendengarkannya. "Iya, aku yang salah karena merasa dia menaruh perhatian. Ini pasti karena aku selalu menutup hati untuk lelaki. Ya, pasti karena selama ini aku menjaga jarak dengan lelaki, mungkin karena aku takut disakiti." 
       
      Sesekali tangannya mengusap air mata yang mengalir ke pipi. Sesekali tangannya mengepal menahan emosi yang ingin meluap. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang semakin menjadi.
        "Tapi aku nggak suka diperlakukan seperti itu Mbak. Aku cuma ingin ada satu orang saja yang benar-benar sayang seutuhnya dan selamanya. Apa itu berlebihan?" Angin berhembus kering menyibak rambutnya yang hitam. Ia membenahi ikat rambut yang mulai berantakan. Saya masih mendengarkannya berbicara.
         "Aku hanya takut tersakiti, sehingga aku lebih memilih menutup hati. Mungkin aku trauma," ia menatap saya dalam dalam. "Kakakku hamil di luar nikah, Mbak, dan sejak saat itu aku sangat berhati-hati dengan cowok. Dan sejak saat itu, aku belum bisa percaya sama orang lain. Aku cuma percaya sama Tuhan."
       Saya menghela nafas, mengerti kesedihan dan kekawatiran yang ia rasakan. Dia menunduk dengan air mata yang masih saja jatuh. Ia meremas ujung bajunya, terisak dan membisu. 
       
       Saya memegang pundaknya, "Hey, ini bukan akhir segalanya, ok? Terkadang aku juga benci mendengar orang memujiku cantik, karena aku tidak tahu dia benar-benar melihat aku cantik atau hanya sekedar basa basi. Kamu boleh menjaga hati kamu, karena itu tidak salah. Suatu saat, hati kamu akan terbuka dengan sendirinya, ketika kamu sudah siap. Kamu juga tidak mau terus menutup diri kan? Kamu kan juga butuh teman hidup, dan selama perjalanan bertemu dengan teman hidup itu tidaklah mulus. Seperti yang kamu alami dengan cowok itu adalah salah satu ujian untuk tahu, apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan jodohmu."
       Dia mendengarkan saya berbicara, lalu memandang jauh di ujung taman. "Jadi ini ujian ya Mbak?" Saya ikut memandang jauh, "Siapa yang tahu."

Testimoni Lelaki Sok Tahu

     Di suatu senja yang gerah, saya berjalan menuju stasiun yang notabene penuh sesak oleh orang-orang yang ingin kembali ke kampung halamannya. Kenapa? Tentunya karena dua hari lagi akan ada hari besar umat Muslim sedunia, yakni Idul Qurban.
       Saya bergegas menuju loket tiket lokal sambil mengeluarkan selembar uang biru seharga 50.000an. 
"Solo satu mbak, jam berapa ya?" 
"Jam 6 mbak."
Lalu saya menyodorkan uang yang sedari tadi basah oleh keringat.
"Nggak ada uang kecil? Belum ada kembaliannya, mbak. Ini mbaknya juga baru nunggu kembalian," ujar penjaga loket sambil menunjuk seorang perempuan yang berdiri di sisi kanan saya.
Sambil sedikit menghela nafas, saya bergeser ke tepi untuk mempersilakan pengantri berikutnya. Tentunya juga berharap semoga orang-orang membeli dengan uang pas agar saya segera mendapatkan tiket.
Gerbong nomor 5 kursi nomor 1A pukul 17.58 tercetak di tiket yang saya pegang. Saya berjalan gontai mencari celah untuk duduk karena stasiun ini penuh sesak oleh orang-orang yang entah pukul berapa keberangkatannya. Sedangkan saya, masih harus menunggu 2 jam ke depan untuk bisa keluar dari stasiun ini. 
     Sebuah kereta mulai meninggalkan stasiun ini. Saya mendapatkan sebuah tempat di samping laki-laki yang sepertinya seumuran dengan saya. Tiba-tiba seorang lelaki duduk di antara kami, lalu mulai berceloteh tentang berbagai hal. Tak disangka ia mulai menebak ini dan itu mengenai saya, mulai dari umur, tanggal lahir, sosial media, hingga pacar. Saya masih ingat sebuah testimoni dari pria yang mengaku dari Cirebon ini yang membuat saya tertawa dalam hati, 
"Seorang cewek yang diajak bicara dengan seorang yang dewasa seperti saya, jika ia terkesan menutup-nutupi berarti ada dua hal yang bisa kita simpulkan. Pertama, ia merasa takut, karena orang yang mengajak bicara adalah orang yang baru dikenalnya. Dan kedua, dia merasa takut pula, karena saya seorang yang dewasa sedangkan ia sudah punya pacar."
       Jika pada saat itu saya memiliki muka setebal baja, sudah pasti saya akan tertawa terpingkal-pingkal di depan wajahnya. Memang sedari awal ia mengajak saya berbicara, saya terkesan menutup diri. Kenapa? Bisa dibilang saya bukanlah tipe orang yang suka dengan seseorang yang sok tahu, dan malangnya lelaki yang mengaku umurnya 28 tahun dan masih lajang ini adalah tipe orang yang seperti itu. Kemudian, seorang wanita datang dan duduk di samping saya. Saya mulai mendapatkan udara segar, setidaknya saya bisa mengajak si Mbak ini ngobrol untuk menghindari tebakan-tebakan mengejutkan lain dari lelaki tadi. Pukul 17.15, sebuah kereta datang. Mbak yang berasal dari Jakarta mulai mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi memasuki kereta. Si lelaki penebak tadi mulai beranjak juga. 
"Mari Mbak, hati-hati ya, kalau diculik saya nggak mau nanggung lho! Sampai jumpa lagi." Saya hanya tersenyum seramah mungkin, sambil melihat ia berjalan menjauh. Lucu juga pikir saya, jika tidak ada lelaki sok tahu tadi, mungkin saya sudah mati kebosanan di stasiun ini.

mulutku halus, tapi penaku tajam

Ketika Aku Diintip Bulan

Baru kemarin aku lihat kawanku berlarut-larut malam demi menunggu pesan asmara. Baru kemarin aku bersorak-sorak di bawah bendera kebanggaan. Sekarang sang Candra mengintip haru di tengah keheningan malam. Dan aku tersenyum sipu menatapnya. Apakah kau melakukan hal yang sama di sana? Karena ada orang yang bilang bahwa sesungguhnya dunia itu hanya sebatas angan, dan impian hanya sejauh dua jari yang disatukan. Akankah kau tahu batasan-batasan menarik udara dalam relung dadamu? Karena kini penaku tak kunjung berhenti menulis. Menuliskan kata demi kata dari kekecewaan senja pada warna kuning. Dari sahabat yang sejenak merasa terlupakan. 
Seperti bintang-bintang yang kecil dan jauh mengamati tapi tak pernah terhitung jemari. 
see you soon, wanagama :)
Esa, .
karena setiap melihat senyum keduanya kau akan menangis haru, lalu lirih berkata, bagaimana aku bisa membahagiakannya :")

masa-masa

di depan meja belajarku tertempel banyak gambar, teman, sahabat, impian-impian..

mengingat masa sma
bagaimana kau kenal yang namanya sahabat
bagaimana kau tau untuk makan saat guru mengajar
bagaimana kau paham tentang film
mengingat masa kuliah
bagaimana kau diajarkan untuk hidup liar
bagaimana kau mengumbar rasa malas
bagaimana kau dipaksa tidak tidur

membayangkan masa depan
dimana kau benar-benar dianggap dewasa
dimana kau dipaksa untuk hidup sendiri
dimana kau dibuat lelah setiap hari
dimana kau siap untuk menikah dan membangun keluarga baru

siapkah?
kecil
matanya tajam
senyumnya lebar

siapa hayo??